"…Saya merasa panggilan hati saya ada di tempat yang berbeda. Saya merasa bahwa saya tidak hanya ingin menjadi seorang pengajar, tetapi juga seorang pembuat kebijakan, seseorang yang bisa memberi dampak langsung terhadap masyarakat. Saya tahu ini bukan jalan yang mudah, dan politik tidak selalu menawarkan kepastian. Namun, saya merasa jika saya bisa memberi manfaat lebih banyak lagi untuk orang banyak, inilah saatnya untuk terjun ke dunia itu.
… Saat proses penghitungan suara dimulai, suasana begitu tegang. Saya sudah berada di posisi keempat, dan masih ada dua caleg lainnya dengan basis massa yang sangat kuat, yang sepertinya lebih unggul. Saat itu, hati saya mulai gundah, dan saya sempat merasa hampir pasrah. Saya sudah mencoba sekuat tenaga, tetapi dengan suara yang masuk, terutama dari desa-desa yang telah dihitung, saya merasa ada kemungkinan besar saya tidak akan terpilih.
Posisi keempat ini terasa seperti berada di ujung jurang. Dalam keheningan hati, saya mulai memikirkan kembali pilihan hidup saya yang lain. Saya berpikir, jika kali ini tidak berhasil, mungkin sudah saatnya untuk kembali berkarir sebagai akademisi, mengajar di kampus, jauh dari hiruk-pikuk politik yang penuh ketidakpastian. Saya sudah ditawari posisi sebagai dosen di salah satu universitas terbesar di Indonesia Timur, sebuah kesempatan yang sangat saya impikan. Perasaan untuk kembali ke dunia akademis pun sempat muncul dengan sangat kuat. Namun, di tengah kebingungan itu, ada satu hal yang terus saya ingat: ini adalah perjalanan yang telah saya pilih. Ini adalah ujian dan perjuangan yang sudah saya jalani dengan sepenuh hati. Saya sudah memberi yang terbaik, bahkan saat itu saya merasa sudah cukup berusaha…."
Buku ini merupakan kumpulan refleksi ringan dari pengalaman penulis menapaki dunia politik, dengan segala dinamika, tantangan, serta pembelajaran yang menyertainya.