Gempa bumi dan tsunami bukan hal baru. Ancaman ini sudah hadir sebagai bencana berkali-kali sejak lama, bahkan jauh sebelum kita hidup di dunia ini. Nenek moyang orang-orang Kaili dan Mandar, pernah merasakan bumi berguncang dan melihat laut naik tinggi menelan daratan. Mereka tahu, bencana seperti itu bisa datang lagi kapan saja. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu hari nanti —
bisa di masa anak-anak kita, atau cucu-cucu kita kelak.
Begitulah alam bekerja: berulang, seperti detak jantung yang tak pernah berhenti sebelum masanya ia berhenti.
Dulu, sebelum ada teknologi dan berita cepat, leluhur kita punya cara sendiri untuk “mendengar” alam. Mereka memperhatikan hal-hal kecil yang sering kita abaikan: ombak yang berubah arah, hewan-hewan yang gelisah, atau air laut yang tiba-tiba surut jauh dari pantai. Semua itu bukan kebetulan. Itulah cara alam berbicara dan mereka bisa memahami bahasanya. Mereka punya nama untuk setiap tempat — bukit, batu besar, aliran sungai, bahkan teluk dan tanjung.
Buku ini hadir sebagai upaya Merawat kearifan, menjaga kehidupan. Pesan dalam syair dan cerita serta toponimi yang mengingatkan, rumah adat sebagai tempat yang aman, tradisi yang menyatukan, kesemuanya adalah suara, pesan laut dan bumi yang diwariskan leluhur. Kita perlu mendengarnya, melestarikan dan mewariskannya turun temurun, menjaganya hingga tak lekang digerus zaman, demi terbangunnya ketangguhan menghadapi bencana di masa yang akan datang.