Sebagian besar puisi penulis sesungguhnya seperti doa-doa yang perlu kita lantunkan, baik sebagai bentuk
kebersyukuran maupun “pengaduan”. Kehidupan hakikatnya memang sebuah paradoks sehingga tidak mungkin kita senantiasa dalam keberuntangan atau kebahagiaan. Luka atau kedukaan juga merupakan sisi kehidupan yang pasti akan kita alami. Melalui puisi, penulis mencoba menampilkan duka atau luka itu sebagai cermin atau pelajaran agar hari-hari di depan menjadi lebih baik dan bermakna.